Alkisah, ketika menjelang ajal tiba Rasulullah SAW bertanya pada para sahabat adakah beliau berhutang kepada mereka? Pertanyaan ini di ajukan karena beliau tidak mau jika bertemu dengan Allah dalam keadaan berhutang.

Mendengar pertanyaan itu para sahabat pada awalnya diam. Namun kemudian salah seorang dari mereka bernama Akasyah berkata, Ya Rasulullah! Aku ingin sampaikan masalah ini. Seandainya ini dianggap hutang, maka aku minta kau selesaikan. Seandainya bukan, maka tidak perlu engkau berbuat apa-apa”

Akasyah kemudian bercerita, “Aku ingat ketika perang Uhud dulu, ketika engkau menunggang kuda, lalu Engkau pukulkan cemeti kebelakang kuda. Tetapi, cemeti tersebut tidak kena pada belakang kuda, sebenarnya cemeti itu terkena pada dadaku karena ketika itu aku berdiri disebelah belakang kuda yang engkau tunggangi wahai Rasulullah”

Mendengar hal itu, Rasulullah ﷺ berkata, “Sesungguhnya itu adalah hutang wahai Akasyah. Kalau dulu aku pukul engkau, maka hari ini aku akan terima hal yang sama.” Dengan suara yang agak tinggi, Akasyah berkata, “Kalau begitu aku ingin segera melakukannya wahai Rasulullah.” Mendengar suara lantangnya, Rasulullah membuka baju untuk memberi kesempatan kepada Akasyah mengambil haknya memukul tubuh Rasulullah ﷺ untuk menyelesaikan masalah hukum dengan sesama manusia.

Meski Akasyah pada akhirnya tidak jadi memukul tubuh Rasulullah ﷺ dengan membuang cemeti yang sudah ada di tangannya, dan bahkan meminta maaf dan menangis karena beliau sebetulnya sedang sakit, tetapi cara bagaimana beliau menyelesaikan masalahnya dengan Akasyah haruslah menjadi catatan penting bagi umatnya.

Catatan penting itu adalah dalam halal bi halal menyelesaikan masalah dengan orang lain kita tidak hanya mencukupkan diri dengan meminta maaf lalu minta diikhlaskan begitu saja, sementara kita mampu menyelesaikannya secara hukum sebagaimana sebuah hutang harus dibayar atau diganti secara sepadan. Prinsip ini agar tidak merugikan pihak lain. Kesadaran ini penting agar halal bi halal bukan sekadar ritual belaka tanpa mengamalkan maknanya yang hakiki.

Oleh: Ustadz Abdul Majid.

Related posts

Huznudzon Vs Suudzon

Huznudzon Vs Suudzon

Prasangka Buruk VS Prasangka Baik Berburuk sangka adalah satu sifat tercela di dalam ajaran agama Islam. Buruk sangka biasanya berawal dari dugaan...

Posted
Kisah Haji Ibnul Mubarok

Kisah Haji Ibnul Mubarok

Abdullah bin Al-Mubarak bin Wadhih Al-Hanzdali At-Tamimi atau lebih dikenal Ibnul Mubarok atau Abu Abdirrahman adalah seorang ulama besar dari...

Posted

Leave a Reply