Abdullah bin Al-Mubarak bin Wadhih Al-Hanzdali At-Tamimi atau lebih dikenal Ibnul Mubarok atau Abu Abdirrahman adalah seorang ulama besar dari kalangan Tabi’ut Tabi’in yang dikenal sebagai ahli hadist, pakar sejarah, suka berjihad, dermawan, pemberani dan sangat dikagumi dikalangan para tokoh ulama setelahnya.

 

Ibnul Mubarok lahir di Khurasan pada tahun 118 H, pada masa Khalifah Hisyam bin Abdul Malik dari Bani Umayyah dan wafat pada bulan Ramadhan 181 H, di masa Khalifah Harun Arrasyid dari Dinasti Abbasiyyah.

 

Sebagai ulama yang gemar menuntut ilmu, beribadah dan penuh semangat dalam perjuangan, Abu Abdirahman juga sering melakukan ibadah haji ke tanah suci. Dalam perjalanan ibadah haji beliau ada sebuah kisah yang sangat populer dan menjadi pelajaran dan pengalaman berharga bagi kita semua.

 

Alkisah pada suatu musim haji Ibnul Mubarok setelah melaksanakan thawaf kelelahan, beliau beristirahat hingga tertidur dan bermimpi. Ia melihat dua malaikat yang turun dari langit sedang bercakap-cakap.

 

“Berapa jumlah umat Islam yang menunaikan haji pada tahun ini?” tanya salah seorang malaikat.

 

“600.000 jamaah haji,” jawab malaikat yang lain, “sayangnya tidak ada satupun dari mereka yang diterima hajinya”

 

Dalam mimpi itu, Abdullah bin Mubarak merasa terperangah. Jumlah sebanyak itu tak ada yang diterima? “Padahal jamaah haji ini datang dari berbagai negeri. Mereka sudah mengeluarkan banyak uang, melalui perjalanan yang panjang dan melelahkan. Bagaimana mungkin semuanya tidak diterima?” Ibnu Mubarak menangis.

 

“Namun…” lanjut malaikat, “Ada satu orang yang hajinya diterima. Namanya Ali bin Muwaffaq, seorang penduduk Damaskus yang berprofesi sebagai tukang sepatu. Sebenarnya ia tidak jadi berangkat haji, tetapi Allah menerima hajinya dan mengampuni dosanya. Bahkan berkat dia, seluruh jamaah haji yang sekarang ada di tanah suci ini diterima hajinya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

 

Ibnul Mubarak sangat bahagia. Ia bersyukur, hajinya dan haji seluruh jamaah diterima. Sayangnya, Ibnul Mubarak terbangun sebelum mendengarkan dialog malaikat berikutnya. Sehingga ia pun tidak mengetahui lebih lanjut siapa orang mulia yang karenanya haji ratusan ribu orang ini diterima.

 

Musim haji selesai, rasa penasaran Ibnul Mubarak semakin menjadi. Maka ia pun memutuskan untuk pergi ke Damaskus, mencari seorang lelaki yang hajinya diterima sebelum ia datang ke tanah suci.

 

Damaskus bukanlah kota kecil. Alangkah susahnya mencari seseorang yang hanya diketahui nama dan profesinya, tanpa diketahui alamatnya. Namun dengan izin Allah, setelah berusaha dan bertanya ke sana kemari, akhirnya Ibnul Mubarak dapat menemukan rumah orang yang bernama Ali bin Muwaffaq.

 

“Assalamu’alaikum,” kata Abdullah bin Mubarak di depan rumah itu.

 

“Wa’alaikum salam”

 

“Benarkah ini rumah Bapak Ali, tukang sepatu?”

 

“Ya, benar, saya Ali bin Muwaffaq. Ada yang bisa saya bantu?”

 

“Saya Ibnul Mubarak, sewaktu haji saya bermimpi dua malaikat bercakap-cakap bahwa seluruh jamaah haji tidak diterima hajinya kecuali Ali bin Muwaffaq, tukang sepatu dari Damaskus. Padahal Ali bin Muwaffaq tidak jadi berangkat haji. Lebih dari itu, Allah akhirnya menerima haji seluruh jamaah berkat Ali bin Muwaffaq” mendengar itu Ali bin Muwaffaq sangat terkejut, hingga jatuh pingsan.

 

Setelah ia sadar, Abdullah bin Mubarak menceritakan kisahnya lebih lengkap. “Amal apakah yang telah engkau lakukan sehingga Allah menerima hajimu padahal engkau tidak jadi berangkat ke tanah suci?”

 

“Ya, aku memang tidak jadi berangkat haji. Sungguh anugerah dari Allah jika Allah mencatatku sebagai orang yang hajinya diterima. Sebenarnya aku telah menabung sejak lama, hingga terkumpullah biaya haji. Namun suatu hari, sebelum aku berangkat ke tanah suci, aku dan istriku mencium masakan yang sedap. Istriku yang sedang mengandung jadi sangat ingin masakan itu. Lalu kucari sumbernya, ternyata dari tetanggaku. Aku katakan maksudku, namun ia malah menjawab, ‘Sudah beberapa hari anakku tidak makan. Hari ini aku menemukan keledai mati tergeletak, lalu aku memotong dan memasakknya menjadi masakan ini. Makanan ini tidak halal untuk kalian.’ Mendengar itu, aku merasa tertampar sekaligus sangat sedih. Bagaimana mungkin aku akan berangkat haji sedangkan tetanggaku tidak bisa makan. Maka kuambil seluruh uangku dan kuserahkan padanya untuk memberikan makan anak dan keluarganya. Karena itu, aku tidak jadi berangkat haji.”

 

Abdullah bin Mubarak terharu. Bulir-bulir air mata membasahi pipi ulama itu. “Sungguh pantas engkau menjadi mabrur sebelum haji. Sungguh pantas hajimu diterima sebelum engkau pergi ke tanah suci,” kata Abdullah bin Mubarak kepada Ali bin Muwaffaq. [Dari Berbagai Sumber]  

Penulis: Ust. Abdul Majid, SH.I

Related posts

Jagalah Hati

Jagalah Hati

Hati adalah raja bagi setiap manusia karena seluruh gerak pikiran, ucapan dan perilaku manusia sangat ditentukan oleh kondisi hatinya. Sebagaimana...

Posted

Leave a Reply