Istiqomah lebih utama dari seribu karomah, dan tumbuhnya karomah dengan menjaga istiqomah.

Kata Istiqomah berasal dari bahasa arab Istaqoma-Yastaqimu-Istiqomah berarti mendirikan. Dalam arti lain dapat bermakna konsisten, tetap, jejeg dan langgeng. Atau lebih tepatnya terus-menerus dan menjadi rutinitas yang dikerjakan secara baik. Untuk menjadi istiqomah diperlukan disiplin tinggi, keseriusan dan kesungguhan serta pendirian yang kuat. Sebab perbuatan baik yang dikerjakan secara terus menerus dengan penuh kesungguhan dan keyakinan bernilai tinggi, seribu kali lebih baik dari seribu karomah. Sementara karomah itu sendiri adalah buah dari istiqomah. Maka sejatinya karomah yang baik adalah karomah yang didapat dari hasil istiqomah bukan yang instan.

Sementara Karomah bermakna kemuliaan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tidak dikenal istilah karomah tetapi keramat yang juga sejatinya berasal dari kata karomah. KBBI memberi arti keramat sebagai suci dan dapat mengadakan sesuatu di luar kemampuan manusia biasa karena ketakwaannya kepada Tuhan. Secara istilah, karomah adalah hal atau kejadian yang luar biasa di luar nalar (logika) dan kemampuan manusia awam yang terjadi pada diri seseorang (wali Allah).

Pemilik karomah diidentifikasi sebagai orang yang suka menjalankan kebaikan, sunnah, dan memiliki keistiqomahan yang sempurna. Allah Swt memberikan kemuliaan dengan karomah ini kepada siapa saja yang Dia dikehendaki.

Oleh karena itu, orang-orang yang istiqomah senantiasa optimis dalam menjalankan hidupnya, yakin kepada Tuhannya, mereka tidak takut, sedih dan cemas, dan mereka yakin bahwa kehidupannya telah dijamin oleh Allah SWT. Sebagaimana firman Allah dalam surat Fushilat ayat 30:

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.”

Selain itu, Allah juga berjanji akan memberikan kecukupan kepada mereka dan Dia jua yang akan menjadi pelindung mereka dalam kehidupan dunia dan akhirat. Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah dalam ayat berikutnya dalam surah yang sama.

“Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta.”

Akhirnya saya tertarik untuk mengakhiri pembahasan ini dengan sebuah kisah keistiqomahan seorang istri terhadap suami yang munafik. Kisah teladan ini tercatat dalam kitab “Uqudullujjain” karya, Muhammad Almu’tarif.

 

Alkisah ada seorang istri yang kerap mendapatkan perlakuan tidak baik dari seorang suami yang dikenal munafik karena suka berdusta, khiyanat dan ingkar janji kepadanya dan orang lain. Pada suatu hari sang suami memberikan suatu kotak berharga (benda antik) kepada istrinya dan menyuruh untuk menjaganya. Sebagai istri yang taat dia pun menyimpan dengan meletakkannya di suatu tempat yang baik dan tak terlihat oleh orang lain. Namun, tiba-tiba pada suatu hari sang suami berniat jahat pada istrinya. Tanpa sepengetahuan sang  istri dia mengambil barang yang dititipkan tersebut dari tempat penyimpanannya dan tanpa ragu membawanya lalu membuangnya kedalam sebuah sumur. Anehnya, tak lama setelah membuang barang tersebut ia pun meminta kepada sang istri untuk mengambilkan barang tersebut. Sang istri tanpa rasa curiga dan ragu mengambil barang tersebut dari tempat penyimpanan semula, dengan membaca bismillahirrahmanirrohim sang istri menemukan barang itu di tempatnya semula dan membawanya kehadapan suaminya.

 

Sontak, sang suami kaget dan terkejut atas kejadian itu. Bagaimana mungkin barang yang sudah dia buang kembali ada begitu saja. Alhasil, atas kejadian itu sang suami sadar atas kejahatan yang kerap ia timpahkan kepada istrinya dan dia pun bertaubat kepada Allah SWT. Dia sadar bahwa istrinya orang baik dan mendapat pertolongan dari Allah, terutama atas keistiqomahannya dalam menjaga bacaan basmalah setiap akan melakukan sesuatu.

 

Wallahu a’lam bisshowab.

 

Penulis : Ust. Abdul Majid, SH.I

Tags: Istiqomah

Related posts

Kisah Haji Ibnul Mubarok

Kisah Haji Ibnul Mubarok

Abdullah bin Al-Mubarak bin Wadhih Al-Hanzdali At-Tamimi atau lebih dikenal Ibnul Mubarok atau Abu Abdirrahman adalah seorang ulama besar dari...

Posted

Leave a Reply