Namanya Galih, pemuda nan biasa, sederhana, pendiam, namun selalu optimis mengukir cita-cita. Pemuda sederhana ini berasal dari keluarga nan sederhana pula. Kesederhanaannya ini makin bertambah dengan keterbatasan kognitifnya. Menurut orang tuanya, Galih harusnya bersekolah di sekolah khusus untuk anak berkebutuhan khusus. Namun Galih tak pusingkan soal itu. Orang tuanya pun tak ragu menyekolahkannya di sebuah pesantren modern di sebuah kabupaten di ujung Pulau Madura.

Ia kagum pada seorang dosen yang sering bepergian ke berbagai tempat di negeri ini. Terbersit iri dalam hatinya: seandainya aku bisa sepertinya, berkelana, berkeliling dunia.

Ia bahkan menyampaikan kekagumannya ini di tengah jam kuliah di dalam kelas. Katanya,”Seneng ya jadi Bapak, bisa sering jalan-jalan ke luar kota.”

Satu kali Galih berkata ketika melihat pak Dosen ini hendak ke luar kota karena urusan kampus. “Saya ingin sekali, jalan-jalan ke banyak tempat. Bahkan kalau bisa ke seluruh dunia.” Kata-katanya yang terakhir itu disambut gelak tawa teman-teman. Itu tawa mengejek, tawa yang seolah disertai pertanyaan sinikal: bagaimana mungkin murid semacam Galih bisa ke luar negeri? Pak Dosennya sendiri tersenyum kasihan, dengan kemampuan dan tubuh yang seperti itu mana mungkin? Namun Galih tak tersinggung, tak marah, ia malah ikut tertawa, seperti biasanya.

Galih tergolong pendek kecil. Agak lambat dalam berbicara, membaca, apalagi menghitung. Namun ia punya keunggulan pada senyum dan kejujurannya. Hampir tidak pernah satu kalipun ia terlihat marah atau melampiaskan kekesalan pada orang lain.

Tapi rupanya Allah mendengar perkataan yang jadi bahan tertawaan itu. Perkataan adalah doa, apalagi jika yang diucapkan dengan tulus dan baik. Allah menyusupkan keberanian dan tekad di hati Galih. Sejak itu, setiap kali mendapat rizki ia selalu gunakan untuk jalan-jalan ke berbagai penjuru Indonesia. Hampir seluruh pulau di nusantara pernah dikunjunginya: Kalimantan, Sumatra, Nusa Tenggara, Sulawesi.

Suatu ketika ia membuat paspor. Ketika Dosennya menanyakan untuk apa, ia menjawab, “pingin tahu aja Pak, bagaimana rasanya buat paspor hehehe,” seperti biasa: ia tersenyum.

Galih lulus kuliah dengan predikat keberuntungan dari kampus yang satu induk dengan pesantren tempatnya mencari ilmu sejak setingkat SMP. Akademik memang bukan jalan hidupnya. Tapi Allah Maha Adil, tidak ada makhluk yang luput dari kasihNya. Sudah tiga tahun ia bekerja di Arab Saudi sebagai pelayan restoran. Setiap musim haji ia menjadi pemandu terutama untuk orang-orang Indonesia. Dan tentu saja ia telah menunaikan haji untuk dirinya sendiri.

Satu hal yang belum tentu seorang lelaki berusia belum genap 30 tahun dari daerah sederhana bisa melakukannya: menunaikan rukun Islam terakhir. Bahkan dosennya saja belum tentu pernah berjumpa denga Ka’bah. Ya, apa yang telah dicapainya bisa jadi jauh di depan dari orang yang bisa jadi memiliki prestasi akademik lebih cemerlang darinya. Banyak yang memiliki lebih mampu secara finansial, namun amat jarang yang punya tekad sekuat Galih untuk berkeliling dunia, dengan menjadikan tanah suci Mekkah dan ibadah haji sebagai titik awalnya.

Seandainya dosennya itu bertanya kenapa ia begitu jauh bekerja sebagai pelayan restoran, mungkin jawabannya adalah untuk jalan-jalan. Subhanallah wa Bihamdihi.

Penulis: Habibi Bk
Editor: Sari Kusuma

Related posts

Leave a Reply