Pagi di kota Jakarta, semua orang bergegas, semua terburu waktu, hingga kadang abai dengan sekelilingnya. Anak sekolah telah mandi dan bersiap selepas Subuh, sebab bel masuk di semua sekolah negeri adalah jam 6.30. Pedagang pasar bahkan telah bersiap dengan dagangannya jauh sebelum Subuh. Sementara karyawan biasanya bisa bergerak di atas jam 7, kecuali mereka yang kantornya jauh di pelosok Jakarta, dengan waktu tempuh minimal satu jam ke kantornya.

Dan bagi pedagang kaki lima penyedia kuliner sarapan pagi, aktivitas itu bahkan mereka mulai sejak dini hari. Menyiapkan dagangan, memasaknya, lalu bersiap membuka lapak dagangan. Termasuk Nenek pedagang bubur ayam ini.

Lepas Subuh, ia sudah siap mendorong gerobak bubur ayamnya menuju perempatan jalan kecil di satu perkampungan, yang jaraknya hanya 10 meter dari kamar kontrakannya. Tak hanya gerobak dan dagangannya yang sudah rapi, tapi ia sendiri pun sudah berpakaian serta berpenampilan rapi, dengan jilbab lebar menutupi rambutnya.

Segera ketika ia tiba, para pembeli datang. Tak henti, hingga jelang waktu dhuha, pembeli mulai sepi, dagangannya pun hampir habis. Saat itulah ia mulai sempat menyiapkan seporsi bubur ayam hangat komplit, dengan ekstra suiran ayam, dan sambal. Segera ia antarkan ke satu rumah tak jauh dari tempatnya berdagang.

Toktoktok!

“Assalamualaikum.. Bu Haji, ini buburnya ya buat sarapan. Waah, maap ya baru sempet nganter siang, rame banget tadi”, katanya begitu yang dipanggil datang membuka pintu lalu menjawab salam.

“Ah, Bu Naya, ga usah repot-repot. Tiap hari dianterin bubur ayam..”, jawab Bu Haji ketika menerima bubur ayam itu, sungkan.

Betul, setiap pagi, nenek penjual bubur ayam itu, sebut saja namanya Bu Naya, mengirimkan seporsi lengkap bubur ayam ke rumah Bu Haji, tetangganya. Yang dimaksud Bu Haji sebenarnya bukan orang susah atau melarat yang perlu sekali disedekahi sarapan setiap pagi. Tidak. Pak Haji adalah seorang pensiunan memang, tapi ia bukan golongan fakir miskin.

“Ini biar jadi hadiah rutin saya untuk beliau”, jawab bu Naya jika ditanya. Ia memang mangkal tepat di depan rumah Bu Haji.

Unik memang, di kota Jakarta yang semua orang kadang begitu sibuk hingga tak sempat memikirkan yang lain, nyatanya ada seorang nenek yang menyempatkan diri untuk rutin bersedekah. Seorang nenek yang sebenarnya untuk hidupnya sendiri harus bekerja keras, sebab ia janda, sementara anaknya yang sudah berkeluarga juga hidup sama pas-pasannya. Ia hidup di sebuah kamar kontrakan seluas tak lebih dari 4×4 meter. Memasak bubur ayam ia lakukan di dalam kamar itu, juga di teras kontrakan yang juga dipakai oleh pengontrak lain untuk memarkir motor.

Hidup memang keras, perlu kerja keras. Butuh kerja fokus untuk bisa bertahan melaluinya. Namun, sekeras apapun hidup, sefokus apapun usaha, bukan berarti tak ada masa untuk sekedar menengok sekitar, sekedar untuk menebar kebaikan, membagi senyum hangat, memberi uluran tangan bersahabat, serta simpati seikhlas hati demi mencairkan angkuhnya hari. Banyak orang menunggu dirinya berlebih baru mau sedekah, padahal bisa jadi kelapangan itu akan datang justru dengan bersedekah..

Sedekah yuk!

Sumber: SuaraJakarta.co

Related posts

Leave a Reply