Bocah itu belum genap berumur 9 tahun, badannya gempal, tingginya sama seperti rata-rata teman seumurnya. Seperti anak sepantarannya, ia mengisi waktu luangnya dengan bermain: main sepeda, lari-larian, main lego, nonton tv dan…main tab dengan berbagai games di dalamnya.

Jika masuk waktu sholat, ia tetap main, tak perduli, terus bermain. Teman lainnya biasanya segera berlalu untuk sholat setelah diingatkan oleh sang ibu. Tapi anak ini, sebut saja Nanda, tak pernah mau jika diajak sholat berjamaah. Begitupun jika hari Jumat datang, ketika semua pria di rumahnya bersiap menuju masjid, Nanda tak pernah mau jika diajak ke masjid bersama.

“Aku sholat kalau di sekolah aja, sholat dhuhur lalu ashar. Kalau di rumah kadang-kadang,” katanya. Namun ia tak pernah menjawab mengapa ia tak begitu perduli dengan jadwal sholat.

Namun, ada yang beda dengan Nanda sebulan ini. Tiba-tiba ketika semua orang bersiap sholat Jumat, ia pun bersiap: Mengganti bajunya dengan baju koko (yang sudah disiapkan oleh Eyangnya tentu saja), berwudhu’, menyelempangkan sajadah kecil di lehernya, lalu bersegera ke masjid. Ia bahkan kadang menghampiri teman lainnya di rumah sebelah.

Sholat lain pun ia tak pernah tinggalkan. Begitu adzan, segera ia berwudhu’ lalu sholat.

Apa gerangan yang dialami Nanda?

“Soalnya, kalau kita membaca ayat Al-Quran, satu huruf itu dapat satu pahala. Kalau sholat kan ada ayat Al-Quran yang dibaca..”

“Trus, saya kan bulan depan mau umroh. Jadi kata mama harus mulai ga ninggalin sholat. Sholat kan wajib bagi orang Islam,” tegasnya dengan bahasa resmi, berani, tanpa henti.

“Saya mau umroh sama mama, Eyang Putri, Eyang Kakung,,”, ia lanjut berkisah tanpa ditanya, lalu kembali tekun dengan selang air di depan rumahnya. Selang air yang ia semprot-semprotkan ke hampir seluruh halaman rumahnya, lalu juga ke teman bermainnya. Sampai mereka pun basah, ditempeli pasir, di antara halaman rumah yang tergenang air. Sementara di belakangnya Eyang Putrinya hanya mampu berteriak: Nandaaaa, banjir nihhh!

Yang direspon dengan tawa nakal sang cucu, tanpa ada niat sedikitpun untuk menghentikan semprotan air di tangannya. Sang Eyang hanya bisa menarik nafas, mengelus dada.

Banyak cara untuk mengenalkan anak pada Tuhannya. Banyak cara untuk membiasakan hal yang baik pada anak. Setiap anak adalah unik, spesial, berbeda dari anak lainnya. Mereka tak layak dibandingkan dengan anak lainnya. Mereka hanya butuh disayang, dicintai, diperlakukan spesial, dan terus dimotivasi untuk memilih, lalu melakukan hal-hal positif dalam hidupnya.

Tirulah jawaban Alfred Pennyworth yang tak kenal lelah mengurus anak asuh sekaligus bosnya -Bruce Wayne- yang keras kepala itu.

Hingga sang superhero itu penasaran menanyai sang Butler,
“You never give up on me, do you?”

“Never!” tegasnya.

Yup, we should never give up to our kids.

Penulis: Sari Kusuma
Sumber: SuaraJakarta.co

Related posts

Leave a Reply