Kemarin, saat berkendara menuju kantor, di tengah perjalanan ada seorang pengendara motor yang menarik gas motornya dalam sekali sehingga mengeluarkan suara keras dan berjalan zigzag menyusul kendaraan lainnya. Terkesan pengendara itu begitu angkuh membawa kendaraannya dan tidak menghargai pengendara lain. Benar saja saat ada pengendara lain yang tak memberinya jalan ia langsung marah besar, dengan gagah berani ia berhenti dan mengancam pengendara lain yang tak tahu apa-apa itu. Kemarahan yang membuncah begitu terlihat di raut muka pemuda dewasa itu, wajahnya memerah, mulutnya komat-kamit penuh ancaman dan tangannya memanggil tanda mengajak duel.

 

Klakson bernada protes dari para pengendara lain yang menyaksikan adegan itu membuat semakin gaduh keadaan. Suara-suara itu bukan hendak memberi dukungan kepada dua insan yang dilanda kemarahan tetapi meminta pertunjukkan segera diakhiri. Perkelahian pun tidak jadi karena salah satu pengendara yang terancam itu mengalah dan cenderung tidak meladeni.

 

Kejadian semacam ini pasti bukan kali pertama terjadi, bukan saya saja yang pernah mengalami dan tentunya di antara para pembaca pernah melihat kejadian serupa atau bahkan lebih parah dari kejadian itu seperti pernah termuat dalam berita hanya karena ribut di jalan seorang tukang ojek ditembak mati dan hanya karena klakson seorang supir taksi ditembak mobilnya. Sungguh sepele terdengar tapi besar akibatnya.

 

Poin yang hendak menjadi pembahasan bukan aneka peristiwa tersebut tetapi apa hakikat amarah itu, mengapa amarah begitu mudah meletuk dalam diri dan bagaimana tuntunan Nabi perihal ini. Tiba-tiba saya teringat dengan pesan Nabi yang diberikan kepada seorang pemuda badui yang datang kepada Nabi untuk minta nasehat. Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairoh yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori, Nabi berkata kepada Pemuda itu “Jangan marah” hingga tiga kali pemuda itu meminta nasehat tapi tetap “jangan marah.”

 

Betapa Rasulullah dalam memberikan nasehat itu sangat mempertimbangkan kepada kapasitas yang diberi nasehat. Kepada seorang pemuda yang memiliki darah muda, jiwa masih berkobar dan semangat perjuangan tinggi Nabi hanya berkata “jangan marah” berkali-kali, sampai-sampai pemuda tersebut menyimpulkan bahwa ajaran Islam hanya tersimpul dalam kata “jangan marah” saja.

 

Dalam Islam amarah merupakan salah satu dari sifat dan perbuatan yang tak terpuji, terlebih kemarahan itu disebabkan hanya karena persoalan sepele dan kemarahan itu menyebabkan orang lain sakit hati. Sebagaimana sabda Nabi berikut ini.

 

Dari Abu Said al-Khudri berkata, Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik orang adalah yang tidak mudah marah dan cepat meridlai, sedangkan seburuk-buruk orang adalah yang cepat marah dan lambat meridlai.” (HR. Ahmad).

 

Dan dari Abu Hurairoh, Nabi mengatakan, “Orang yang kuat tidaklah yang kuat dalam bergulat, namun mereka yang bisa mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Malik).

 

Jelas bahwa Nabi mengajarkan umatnya untuk bersabar dan tidak cepat marah, dan salah besar jika menilai seorang pemarah adalah seorang pemberani dan orang yang kuat, justru Nabi berkata sebaliknya, orang kuat adalah orang yang sanggup menahan amarahnya bukan orang yang berani dan kuat dalam berkelahi.

 

Lalu apakah Nabi tidak pernah marah dan kita tidah boleh marah sama sekali? Dalam beberapa riwayat hadits dijelaskan bahwa Nabi pernah marah. Konon, bila Nabi marah, pelipisnya memerah. Bila marah dan saat itu sedang berdiri, ia duduk. Bila marah dalam keadaan duduk, ia berbaring. Seketika, hilanglah amarahnya. Dikatakan juga jika Nabi sedang marah, tak ada seorang pun yang berani berbicara padanya, selain Ali bin Abi Thalib. Lepas dari itu, ia sulit sekali marah, dan sebaliknya, mudah sekali memaafkan. Kesaksian ini dikutip secara valid oleh Yusuf an-Nabhani dalam “Wasail al-Wushul ila Syamail al-Rasul”.

 

Kemarahan yang dilakukan Nabi pun tidak terkait urusan pribadi tapi karena pelanggaran hukum ajaran agama. Pernah dalam sebuah perang Nabi marah keras kepada Usamah bin Zaid yang membunuh seorang musuh yang telah mengucapkan Laa ilaaha Illallah. Usamah berdalih bahwa musuh ini mengucapkan kalimat itu hanya karena ini berlindung mencari aman saja. Tapi tidak kata Nabi, “Apakah engkau membunuhnya setelah dia mengucapkan Laa ilaaha Illallah

 

Nabi adalah sosok yang sangat penuh kasih dan sayang. Apa pun yang terjadi beliau sangat mendahulukan perdamaian, penjelasan baik dan tidak cepat marah. Ada sebuah cerita, suatu hari Nabi bersama para sahabat berada di masjid, datang seorang bertingkah laku aneh dan sangat mengejutkan ia kencing di pojok masjid. Sontak para sahabat Nabi melihat kejadian ini dan ingin langsung mengusir orang badui tersebut.

 

Nabi langsung menahan para sahabat dan membiarkan arab badui itu menyelesaikan hajatnya. Dengan tenang Nabi menemuinya dan menjelaskan kepada orang tersebut perihal fungsi dan etika di masjid. “Berdirilah, ambilkan seember air dan guyurlah air kencing tersebut,” tutur Nabi kepada para sahabat. Mereka kemudian bangkit dan melaksanakan perintah ini.

 

Fa innama bu‘itstum muyassiriin wa lam tub’atsu mu‘assirin. Sesungguhnya kalian diutus untuk memberi kemudahan dan tidak diutus untuk membuat kesulitan,” pesan Nabi selanjutnya.

 

Penulis: Abdul Majid, SP. SHI

Related posts

Api Cinta vs Api Neraka

Api Cinta vs Api Neraka

Imam Junaidi Al-Bahdadi berkata: +ACYAIw-8220+ADs-Neraka berseru: +ACYAIw-8216+ADs-wahai Tuhanku, jikalau saya tidak taat kepada-Mu, apakah Engkau akan menyiksaku...

Posted
Kisah Haji Ibnul Mubarok

Kisah Haji Ibnul Mubarok

Abdullah bin Al-Mubarak bin Wadhih Al-Hanzdali At-Tamimi atau lebih dikenal Ibnul Mubarok atau Abu Abdirrahman adalah seorang ulama besar dari...

Posted

Leave a Reply