Di seantero Hongkong, ada sebuah masjid terbesar yang memiliki sejarah panjang sejak tahun 1800. Dibangun di dekat barak Whicfield, masjid ini dibangun oleh garnisun tentara Inggris yang mendarat di Hongkong pada bulan Mei 1892, dan didedikasikan bagi tentara muslim yang berasal dari India.

 

Berusia 30 Tahun Lebih

 

Seperti dilansir situs islamictrusthk.org, tertulis dalam prasasti pembangunannya bahwa resimen Hongkong membangun masjid ini pada 1986 di bawah pengawasan Kolonel E.G Barrow. Masjid ini kemudian direnovasi dan diwarnai ulang pada tahun 1902 dengan seijin Mayor Berger. Renovasi dilakukan dengan dana sumbangan dari tentara muslim, dengan Imam mereka Maulvi Ghulab Shah.

 

Di samping masjid, dibangun pila kolam air besar tempat penampungan air wudhu’ serta sumber air yang di dalamnya didiami ikan emas yang membersihkan air dari kotoran.

 

Pada tahun 1976 saat otorita Hongkong membangun jalur kereta bawah tanah, masjid ini terkena efeknya sehingga bangunannya sebagian retak dan terlalu berbahaya jika dipertahankan. Sejak saat itu, diajukanlah ijin kepada otorita Hongkong untuk membangun kembali masjid di lokasi aslinya. Ijin ini keluar pada 7 Desember 1977.

 

Pembangunan kembali dimulai pada 6 Maret 1981. Menghabiskan total 25 juta HK$, masjid ini secara resmi dibuka ditandai dengan sholat Jumat berjamaah pertama pada 11 Mei 1984. Dengan kapasitas hingga 3500 orang, setiap hari masjid ini menyelenggarakan sholat berjamaah lima waktu, serta sholat ied di dua hari raya. Saat Ramadhan, di sini disediakan ifthor untuk 2000 hingga 2500 jamaah.

 

Masjid ini berbentuk persegi besar yang indah dengan atap merah muda serta kubah di bagian atasnya. Empat menara setinggi 11 meter membuat masjid ini tampak menonjol. Selain rumah sholat, di dalamnya dilengkapi pula dengan klinik, rumah komunitas dan perpustakaan. Ruang sholat wanita terletak di lantai dua dengan ukuran lebih kecil dan dikelilingi teras bernuansa merah muda.

Kelas Untuk Anak Hingga Non-Muslim

 

Kowloon Mosque dilengkapi dengan ruang salat, ruang komunitas, klinik dan perpustakaan. Ruang salat utama dapat menampung 1.000 orang. Khusus wanita, ruang salat dibuat lebih kecil dan berada di lantai dua yang dikelilingi teras berwarna pink. Aula atas beratapka kubah berdiameter 5 meter setinggi 9 meter.
Sementara untuk kubah, masjid ini memiliki kubah setinggi lima meter dengan diameter sembilan meter.

 

Sehari-hari, di masjid terdapat madrasah untuk anak-anak. Mereka belajar bahasa Arab serta Al-Quran dalam bahasa Inggris dan Urdu. Kursus keIslaman juga diadakan secara regular untuk nonMuslim.

 

Dengan arsitektur uniknya, masjid ini menjadi bangunan khas bagi kawasan Tsim Sha Tsui, sekaligus identitas bagi komunitas muslim Hongkong.

 

Basis Pahlawan Devisa

 

Nah, setelah puas membaca sejarahnya terlebih dahulu, penulis pun bersiap mengunjunginya esok pagi. Pada pagi yang kesiangan sebelum menjelajahi Hong Kong, menyusuri Nathan Road, saya singgah di Kowloon Mosque. Samar-samar terdengar sinden jawa, eh.. bukan deh! Ternyata percakapan beberapa TKW Indonesia berbahasa Jawa!

 

Rupanya para TKI sedang libur hari Minggu itu, berarti saya bakal banyak bertemu warga Indonesia. Di sebelah Kowloon Mosque ini, mereka biasa berkumpul sekaligus mengikuti pengajian (bagi yang mau) dan mencari kesempatan berdagang makanan nasi kotak atau bungkus dengan menu khas Indonesia. Nasi bungkus dihargai ‘cuma’ 20 HKD. Bahkan ada teh kotak asli Indonesia cuma 5 HKD.

 

Walhasil, saya pun memborong dua kotak nasi, satu bungkus mpek-mpek. Yup! Cukup untuk pengganjal perut backpacker seperti saya. Makasih mba’ee, bukan hanya pahlawan devisa, tetapi kalian juga pahlawan bagi perut saya yang rindu menu makanan Indonesia dengan harga murah. Semoga tetap istiqomah ikut pengajiannya…

 

Penulis: Salkamal Tan
Editor: Sari Kusuma

Related posts

Leave a Reply