Sore itu, seperti biasa Pak Yatma-bukan nama sebenarnya ikut membantu persiapan acara taklim di masjid perkantoran tempatnya bekerja. Sebuah layar LED besar akan dipasang di selasar samping masjid. Layar itu akan digunakan untuk pemutaran film Islami menjelang berbuka nanti. Saat itu memang tengah bulan Ramadhan. Dan Pak Yatma ikut sibuk membantu teknisi memasang layar berukuran sekitar 3×2 meter itu.

 

Sebelum acara pemutaran film dimulai, panitia sengaja memutar tayangan gambar live aktivitas di masjidil Haram. Terlihat di sana Ka’bah berdiri tegak anggun, dan di sekitarnya ratusan ribu muslim tawaf mengelilinginya. Pak Yatma ternganga memandanginya. Hatinya berdegup kencang.

 

“Kapan ya saya bisa nyampe sana?”, gumamnya seketika penuh rasa rindu. Salah seorang imam masjid yang sedang berdiri di sebelahnya mendengar, lalu segera menepuk lembut punggungnya,”InsyaAllah segera Yatma, segera..,” hiburnya.

 

Sejak saat itu, hari-hari lelaki yang sehari-hari bekerja sebagai petugas taman itu penuh gelora. Dan benar, selepas Ramadhan, pihak manajemen masjid menghampiri, lalu menganjurkannya untuk segera mengurus paspor.

 

Bagaikan bunga layu tersiram air hujan, semangat lelaki usia 43 tahun itu membuncah. Keesokan harinya ia langsung minta ijin dari kantor, dan segera mendatangi kantor dinas imigrasi. Namun sayang, di sana ia ditolak. Antrian sudah penuh katanya, ia datang terlalu siang. Kembali ke masjid dengan wajah lelah, kembali imam masjid melihatnya. Katanya,”Sini surat-surat persyaratannya, saya ada kenalan yang bisa bantu urus. Buat Pak Yatma dia kasih jasa gratis..”

 

Begitulah, seminggu kemudian paspornya jadi. Dan namanya segera terdaftar dalam peserta umroh yang diselenggarakan masjid. Ya, lelaki beranak dua itu menjadi penerima umroh gratis dari penyelenggara umroh masjid!

 

Dia sehari-hari pekerjaannya ‘hanya’ memelihara taman. Rumahnya tak lebih luas dari 4×5 meter persegi. Ruangan itu menjadi kamar, ruang tamu, ruang makan, ruang keluarga bahkan dapurnya. Bersama istri dan kedua anaknya ruang itu mereka tempati. Untuk menyiasati pengeluaran, setiap hari ia berjalan kaki dari rumah ke kantornya, pulang pergi. Jarak tempuh rumah ke kantornya tidak kurang dari 8 kilometer. Untuk menghemat pengeluaran pula, jika sesekali sakit atau keluarganya sakit, ia berobat ke sebuah pelayanan kesehatan gratis di masjid yang sama. Tentu ia harus berhemat, sebab gaji buruh taman di bawah perusahaan outsourcing memang lebih rendah dibandingkan UMR ibukota saat ini.

 

Ia benar-benar berangkat umroh! Tetangganya pun hampir tidak percaya. Seperti nyaris dirinya hampir tak percaya saat kemudia dirinya telah berada di depan Ka’bah sebulan kemudian. Tak ada kata yang terucap di mulutnya waktu itu, yang ada hanya rasa takjub dalam hatinya. Seiring matanya yang mulai basah, hatinya perlahan merasa kerdil: Maha Besar Engkau Ya Allah!

 

“Memang benar, kalau sudah Allah berkehendak, tak mungkin ada yang bisa menghentikan. Yang penting satu: Jika memang niat kita ibadah, ibadah yang bersih dari niat atau pikiran lain, maka semuanya akan Allah mudahkan. Kan kata pak ustadz Allah itu seperti prasangkaan kita, kita berprasangka baik, maka jadinya baik, mudah. Buktinya waktu ngurus vaksin haji saya gampang-gampang banget. Juga yang lain, gampang banget deh!”, nasehatnya.

 

Dari Pak Yatma kita telah belajar: bahwa berjuang terus dan terus berprasangka baik kepada Yang Maha Kuasa adalah modal meraih impian. Impian seorang petugas taman untuk tawaf di sekitar Ka’bah. Barakallah Pak Yatma!

Penulis: Sari Kusuma

Related posts

Leave a Reply